Terapi Rehabilitasi Ulkus Dekubitus Pada Geriatri

Terapi Rehabilitasi Ulkus Dekubitus Pada Geriatri

Ulkus dekubitus atau luka akibat luka tekanan merupakan salah satu komplikasi immobilisasi pada usia lanjut. Ulcus Decubitus adalah luka akibat peningkatan tekanan pada daerah kulit yang sama secara tarus-menerus.

Pada posisi terbaring, tekanan akan memberikan pengaruh pada daerah kulit, dimana terjadi penonjolan tulang yang menyebabkan aliran darah terhambat, dan terbentuknya anoksia jaringan dan nekrosis. 

Ulcus Decubitus dapat terjadi dimana saja, namun 80% – nya terjadi pada tumit, malleolus lateralis, sacrum, tuberosista ischium, dan trochanter mayor. Opini bahwa semua Ulcus Decubitus dapat dicegah masih controversial. 

  • Identifikasi faktor-faktor risiko
  • Onset dan durasi ulkus
  • Riwayat perawatan luka sebelumnya
  • Identifikasi faktor lainnya. Kesehatan fisiologis, status kognitif dan perilaku, sumber daya sosial dan finansial, akses terhadap care giver dan kemungkinan penelantaran (abuse/neglected case)

Pemeriksaan Fisik

  • Inspeksi: kulit dari kepala hingga ujung kaki, depan hingga belakang, palpasi sesuai indikasi, perhatikan jumlah, lokasi, ukuran (panjang, lebar kedalaman) ulkus dan periksalah apakah ada eksudat, bau, traktus sinus, formasi nekrosis atau eschar, undermining (cekungan), tunneling (terowongan), infeksi, penyembuhan (granulasi dan epitelialisasi), dan batas luka. Kemudian diklasifikasikan ke dalam stadium klinis
  • Penilaian ulang kulit 8-24 jam, dengan perubahan kondisi atau level of care
  • Tanda infeksi
  • Pemeriksaan Penunjang
  • Laboratorium (sesuai indikasi): darah perifer lengkap, protein total, albumin, gula darah
  • Sesuai indikasi: foto toraks, USG, Termografi

Diagnosis Banding

  • Eritema non palpable yang menghilang pada penekanan, penyebab lainnya.
  • Dermatitis terkait kelembaban (moisture –associate dermatitis)
  • Luka kronis tipe lainnya (ulkus diabetikum, ulkus venous, ulkus arteriosus)
  • Ulkus dekubitus atipikal
  • Pioderma gangrenosum
  • Osteomielitis

  • Pencegahan: Skrining risiko dengan skala Braden yang menilai durasi dan intensitas tekanan eksternal )fungsi sensoring, aktivitas, mobilisasi), hindari kulit terhadap faktor yang berpotensi melukai( kelembapan, status gizi kurang, friksi), preventive positioning (miring 30 derajat ke kanan dan ke kiri setiap dua jam) diberikan untuk mencegah dekubitus pada sacrum dan spina iliaca anterior superior (SIAS). Therapeutic positioning diberikan dengan teknik yang sama namun dilakukan setiap satu jam
  • Komponen desar tatalaksana Ulcus Decubitus: mengurangi tekanan pada kulit, membersihkan luka, debridement jaringan nekrotik, mengatasi kolonisasi dan bacterial load, dan pemilihan wound dressing
  • Status gizi pada semua stadium Ulkus Dekubitus: Pada pasien malnutrisi, diet tinggi kalori (30-35 kal/kg/hari ) tinggi protein (1,25-1,5g/kg/hari) dan hidrasi cukup dapat membantu penyembuhan luka, durasi rawat inap lebih pendek, dan komplikasi yang lebih sedikit. Protein, vitamin c, dan suplemen zinc dapat dipertimbangkan apabila intake kurang atau terdapat bukti defisiensi
  • Antibiotik sistemik diberikan bila terdapat bukti selulitis, osteomielitis, atau bakteremia, rejimen terapi ditujukan untuk gram posistif, negative, dan anaerob. Karena tingginya angka mortalitas, antibiotic empiris dapat diberikan pada suspek sepsis atau bakteremia. Antibitok topical tidak diindikasikan
  • Tempat tidur khusus: penggunaan kasur anti dekubitus yang berisi udara (alternating pressure air mattress) menurunkan angka kejadian ulkus dekubitus. Pada tumit dari pada kombinasi matras viskoelastis dan reposisi tiap 4 jam, namun tidak untuk sacral
  • Perawatan luka: luka harus dibersihkan sebelum mengganti dressing. Debridement jaringan nekrotik secara pembedahan atau dengan menggunakan kompres kasa dengan normal saline. Antiseptic seperti povidone iodine, asam asetat, hydrogen peroksida, dan sodium hipokrolit (jaringan dakin) harus dihindari karena menghancurkan jaringan granulasi. Antibiotik topical seperti siver sulfadiazin sebaiknya digunakan selama 2 minggu untuk membersihkan luka yang tidak sembuh seperti seharusnya setelah perawatan optimal 2-4 minggu
  • Konsultasi bedah dipertimbangkan pada UD stadium III dan IV yang tidak respon dengan perawatan optimal atau bila kualitas hidup pasien dapat meningkat dengan penutupan luka secara cepat.
  • Wrap therapy dapat dipertimbangkan pada UD stadium III dan IV
  • Manfaat terapi elektromagnetik, ultrasound, oksigen hiperbarik masih belum jelas
  • Transpalantasi kulit (skin grafting) sesuai indikasi
  • Terapi sel punca (stemcell therapy) (masih dalam fase penelitian pendahuluan)

KOMPLIKASI

  • Hipoalbuminemia, anemia, infeksi, sepsis. 

PROGNOSIS

  • Prognosis ulkus dekubits stadium I dapat diperediksi dengan penilaian awal dan manajemen yang sesuai. Studi di texas menunjukkan angka mortalitas sebanyak 69,9% dengan rata-rata 47 hari mulai dari onset ulkkus dekubitus hingga kematian. Menurut penilitian ini, pasien dengan beban penyakit berat yang mendekati akhir hidupnya, berkembangnya ulkus dekubitus full – thickness nosokomial merupakan suatu proses patologis komorbid. 

REFERENSI

  • Caruso LB. Geriatric Medicine. In: Longo DL Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17′” Edition. New York, McGraw-Hill. 2008
  • Bluestein D, Javaheri A. Pressure Ulcers : Prevention, Evaluation, and Management. Am Fam Physician. 2008;78( 1 0): 1186-1194, 1195-1196. Diunduh dari http:/ /www.aafp.org/afp/2008/1115/ p1186.pdf pada tanggal25 Mei 2012.


    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s